RSS

-Never Ending Story-

01 Apr

sebuah tulisan dari Sahabat untuk Sahabat

*****

Kabar itu saya dengar langsung dari mulutnya dan saya terdiam tanpa mampu berpikir apa-apa. Jangankan mencari kata untuk sekedar menguatkan, untuk bertanya kenapa pun hilang di telan kekagetan luar biasa.

Saya hanya bisa mendengarkan dan sesekali tersenyum, getir-pedih-kalut dalam satu waktu menyentak dada yang masih saja tidak percaya mendengar kabar itu.

* * * * *

Entah ini pantas untuknya atau tidak, saya baru menangis di malam setelah kami bertemu, berbincang, berbagi. Tangis yang tak bertujuan, tidak tau untuk duka nya, untuk luka hati nya, untuk keputusan nya, untuk kebahagian nya atau untuk ke-ikhlas-an nya bercerita. Saya tidak mengerti untuk alasan apa saya menangis.

Kesadaran satu-satunya adalah ketika saya bisa merasakan bulir-bulir itu jatuh dan menghapusnya dengan kelima jari-jari saya, bahwa akan ada sesuatu yang dapat menghapus luka. Bukan tentang waktu dan kenangan. Tetapi hati yang terbuka untuk setiap kesempatan yang akan datang kembali padanya dalam bentuk apa pun.

* * * * *

Hidup memang bukan sekedar hitam-putih. Banyak yang harus disepakati, dalam hal ini adalah untuk menyiasati sesuatu agar bisa berjalan semestinya.

Menerima pun bukan sekedar iya-mengangguk-menjalani. Saya baru saja mengerti setelah ia bercerita untuk ke sekian kali. Perlu banyak kerelaan baik secara naluri maupun logika demi tujuan yang lebih baik. Tentunya bagi semua pihak yang saling berkaitan. Karena lingkaran yang terbentuk meski sudah terbagi-bagi tetap memiliki benang merah yang tidak mungkin terputus.

Saya tergugah melihat ketegaran yang dimilikinya. Meski saya mengenalnya selama hampir sembilan tahun, namun siang itu saya terpaksa diam dibuatnya. Saya berusaha menyelami pikiran juga hatinya. Saya menemukan banyak ketegaran di dalam sana seperti yang saya yakini. Selalu.

Lantas apalagi yang saya temukan? Saya melongo melihatnya berjuang sendiri dengan mengemasi harga dirinya. Ia tinggalkan rasa sakit untuk melihat anak-anaknya tersenyum. Ia melawan agar anak-anaknya menjadi kuat. Ia mengalah karena anak-anak butuh contoh dan teladan.

Melihatnya berdiri sendiri disana ternyata dapat membuka pikiran saya, bahwa apapun yang terjadi baik pahit ataupun manis manusia hanya perlu menjalaninya dengan tangan terbuka. Bersyukur karena hidup masih terus berjalan. Dan di depan sana bahagia masih bisa tercipta.

* * * * *

Untuk mu sahabat, berjalanlah…! Jangan berhenti, langkah ini sudah semakin jauh, kembali bukan pilihan satu-satunya.

* * * * *

Speechless…. setiap kali membaca hanya dapat terucap terima kasih sahabat… terima kasih kau selalu ada… terima kasih telah menerima apa adanya… dan terima kasih kepada waktu yang mempertemukan kita sampai sekarang…..

 
Leave a comment

Posted by on April 1, 2012 in sebuahCERITA

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: